Paulus Bambang WS

Namanya sederhana, seperti kebanyakan orang biasa, Edi. Namun, pribadinya tidak biasa, kalau tidak mau dibilang luar biasa. Ia pemimpin tertinggi sebuah perusahaan, yang memiliki hati terendah di antara banyak pemimpin yang saya kenal.

Suatu kali, Bung Edi, begitu saja kita memanggilnya, membeli perusahaan baru. Kata orang, di perusahaan ini banyak “maling”-nya, bahkan dalam skala kecil sudah terbentuk mafia TSM, terstruktur-sistematis-masif. Sebagai pemilik baru, Bung Edi punya pilihan, memberantas mereka dengan gaya preman atau dengan gaya orang tua. Yang satu, mencokok maling dan melibas mafia dengan pasukan khusus samber MaMa, Maling dan Mafia. Atau, memakai pendekatan kebapakan yang menangkap untuk memperbaiki, bukan menghukum.

Bung Edi memilih nomor dua dengan pendekatan nomor satu. Dengan sigap ia membentuk saber MaMa, menangkap basah, alias OTT (Operasi Tangkap Tangan) ala KPK, dengan foto dan CCTV untuk memergoki orang yang mencuri.

Satu per satu orang yang kena OTT dipanggil ke kantornya untuk dilakukan revolusi mental. Jarwo, begitu nama salah satu orang yang tertangkap tangan, mendapat penanganan khusus dari Bung Edi.

“Saya tahu Bapak sudah melakukan hal ini berulang-ulang, ini fotonya. Sekarang terserah Bapak, mau saya proses secara hukum atau berjanji tidak mengulangi,” kata Bung Edi dengan lembut tanpa ada tekanan.

“Saya minta maaf, Pak. Khilaf. Saya berjanji tidak mengulangi,” kata Jarwo lirih.

“Kalau begitu, saya naikkan gajimu dan pangkatmu dengan syarat Bapak menangkapi para maling dan didik mereka ke jalan yang benar,” lanjut Edi yang membuat Jarwo terkesima.

“Siap Pak,” kali ini Jarwo merasa seperti punya kesempatan kedua. Ia mendapat pengampunan, bukan penghukuman.

Sejak saat itu, Jarwo menjadi manusia baru dan membuat banyak rekannya juga menjadi baru, karyawan yang jujur, karena Bung Edi melakukan gebrakan yang merestorasi mental.

Selain Bung Edi, kali ini ada Edi yang lain. Sebut saja, Bang Edi. Yang satu ini, tanpa disangka, tertangkap basah ketika sedang merokok pagi hari nan dingin di Osaka di beranda hotel. Ia kira, merokok di beranda luar diperbolehkan.

Ada tiga polisi yang pagi itu sedang berjalan melintas dan memergoki Bang Edi sedang merokok dengan santai. Dengan sopan, polisi tersebut berbicara dalam bahasa Jepang yang kira-kira artinya: di sini tidak boleh merokok.

Bang Edi mengerti maksud mereka karena membaca ekspresi dan bahasa tubuh mereka. Salah satu polisi kemudian merogoh kantong bajunya dan mengambil asbak agar Bang Edi bisa mematikan dan membuang puntung di asbak itu. Dengan malu, Bang Edi melakukannya sambil minta maaf. Lalu, ketiga polisi itu membungkuk dalam-dalam sambil mengucap terima kasih lalu berlalu tanpa memberi tiket hukuman.

Kedua Edi membuat sebuah perubahan. Yang satu membuat organisasi menjadi baik karena menegur tanpa menghukum, yang lain menjadi orang baik –dia tidak akan pernah mengulanginya lagi– karena ditegur tanpa dihukum.

Ternyata, pendekatan penghukuman tidak selalu efektif mengubah perilaku seseorang. Ada banyakhal yang juga saya percayai, pendekatan pengampunan dan kebapakan sering justru mengubah secara permanen. Apalagi kalau dia tahu, ia mendapat karunia dengan tidak dihukum bahkan dipercayai.

Mengapa demikian? Ada tiga hal yang terjadi ketika pengampunan diberikan, bukan penghukuman.

Pertama, orang yang merasa salah besar lalu diampuni merasa berutang. Orang yang berutang, atau mendapat karunia, akan cenderung berubah untuk membayar kesalahannya. Ini berbeda ketika ia dihukum, ia tidak merasa berutang karena sudah membayar salahnya.

Kedua, orang yang diampuni, apalagi yang besar kesalahannya, akan sangat loyal kepada si pengampun karena merasa diuwongke. Ia akan berutang budi dan itu akan dibalas budi secara berlipat ganda. Salah satunya, perubahan perilaku.

Ketiga, orang yang sudah diampuni punya kecenderungan besar menjadi orang yang suka mengampuni juga. Kalau ia jadi pemimpin, tidak mudah menghakimi untuk menghukum tetapi untuk mengubah melalui pengampunan.

Saya yakin, inilah prinsip kepemimpinan yang perlu kita simak dan pelajari. Tidak sekadar prinsip penghakiman dan penghukuman. Tanpa pengampunan, banyak orang yang sakit hati dan menjadi antipati, apalagi yang simpati pada yang dianggap salah, terhadap pemimpin tersebut. Kalau ada pengampunan, justru siapa tahu akan terjadi sebaliknya.

Ketika saya diskusikan hal ini dengan kolega yang lain, ia bilang,Paulus, saya sudah melakukannya, tetapi yang saya ampuni malah jadi pemberontak dan mengkhianati saya. Saya lalu berujar, Selalu ada Yudas Iskariot –murid Yesus yang mengkhianati– di sekitar kita. Tetapi, jangan pernah pupus harapan. Masih banyak yang berubah di luar sana.

Tidak selalu perilaku baik kita mendapat balasan setimpal, tetapi percayalah, Dia yang ada di sana mencatat semua yang kita lakukan dan akan mengampuni karena kita telah mengampuni orang lain.

sumber.

http://swa.co.id/swa/my-article/menghakimi-tanpa-menghukum